Politik : Kepentingan Masyarakat atau Pribadi ?
Posted by
Atoen Meto on Minggu, 23 Desember 2018
Kegaduhan politik hampir menghiasi seluruh ruang tutur masyarakat baik secara langsung maupun melalui media massa. Menjelang perhelatan pesta demokrasi terbesar bangsa ini, aktivitas para politisi seakan merebut banyak perhatian publik. Hampir setiap hari para politisi dari berbagai partai politik turun ke berbagai pelosok pedesaan. Mereka menyusuri jalan-jalan yang belum pernah mereka lalui, melewati berbagai rintangan dalam perjalanan dengan satu tujuan agar dapat bertemu dengan masyarakat pedesaan.
Aktivitas ini juga tidak jarang melibatkan masyarakat desa, baik sebagai pendengar atau pun sebagai pembicara. Sering kali perbincangan yang terjadi dalam masyarakat mengangkat topik tentang figur-figur politik yang sudah mereka kenal. Perbincangan semacam ini berisi ajakan mendukung figur tertentu yang secara sepihak dinilai baik karena datang dengan janji-janji politik yang menggiurkan yang belum tentu dilakukan ketika terpilih atau tentang sosok yang adalah keluarga sendiri dan harus didukung agar nantinya dapat memperhatikan kehidupan di daerah sendiri.
Namun budaya politik yang sudah lama dirasakan masyarakat, yaitu budaya tebar pesona senyum manis dan janji-janji kosong, membuat sebagian masyarakat menjadi apatis terhadap politik, tetapi tidak sedikit masyarakat yang berharap akan muncul sosok-sosok baru pejuang nasib rakyat. Keadaan seperti ini sering menjadi senjata para politikus untuk menabur kebohongan demi menuai dukungan.
Nuansa politik kali ini dirasakan sedikit berbeda dimana saat ini para calon legislatif (caleg) gencar melakukan kampanye sampai ke pelosok desa, sementara persaingan untuk pemihan presiden dan wakil presiden pun tak kalah gencarnya. Momentum ini bagi sebagian caleg sedikit menguntungkan. Kehadiran para caleg-caleg baru pun semakin banyak terutama dari kalangan anak muda. Tentunya persaingan untuk memperoleh posisi dalam parlemen maupun sebagai pemimpin negara sangat-sangatlah ketat, sehingga banyak cara digunakan untuk mencapai tujuan masing-masing.
Kulturisasi politik yang selama ini menjadi momok bagi masyarakat harusnya menjadi hal penting yang harus dihindari para elit politik. Mengutamakan kepentingan rakyat hendaknya menjadi prioritas, sehingga ketakutan yang selama ini dirasakan tidak lagi terulang dan terus menjadi budaya yang tak dapat dirubah dan akhirnya menindas kehidupan masyarakat. Hiruk pikuk politik saat ini seharusnya menjadi momentum bagi para caleg yang jika terpilih disebut sebagai wakil rakyat untuk mendengar, melihat dan merasakan setiap persoalan yang terjadi dalam masyrakat untuk diperjuangkan, bukan hadir dengan jargon-jargon kosong dengan tujuan semata-mata menarik simpati dan dukungan masyarakat agar bisa merasakan kursi panas di parlemen.
Hadirnya banyak politisi di desa-desa seakan menjadi kabut dan membuat semua menjadi kabur sehingga masyarakat pun lupa akan penderitaan yang selama ini mereka rasakan. Masyarakat terbuai dengan apa yang mereka dengar tanpa menyampaikan apa yang mereka rasakan, sehingga masalah yang selama ini menyerang kehidupan mereka semakin tumbuh subur hingga menghasilkan buah.
Para elit politik seharus hadir sebagai pendengar yang baik, melihat dan merasakan persoalan dalam masyarakat,bukan mementingkan pribadi mereka dengan mencari orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh disetiap desa yang bisa diajak kerja sama lalu menutup mata dan telinga terhadap kondisi yang sangat memprihatinkan di pedesaan.
Para elit politik seharus hadir sebagai pendengar yang baik, melihat dan merasakan persoalan dalam masyarakat,bukan mementingkan pribadi mereka dengan mencari orang-orang yang dianggap memiliki pengaruh disetiap desa yang bisa diajak kerja sama lalu menutup mata dan telinga terhadap kondisi yang sangat memprihatinkan di pedesaan.
Ramlan Surbakti mengatakan bahwa "politik adalah proses interaksi antara pemerintah dan masyarakat untuk menentukan kebaikan bersama dalam satu wilayah tertentu". Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam politik seharusnya ada interaksi timbal balik antara para elit politik dan juga masyarakat. Para elit politik tidak hanya menyampaikan apa yang menjadi visi misi mereka tapi juga harus mendengar, melihat dan merasakan masalah yang ada di masyarakat sehingga kebijakan yang akan dibuat pun tepat sasaran.
Tetapi sejauh yang kita lihat sekarang melaui media sosial, bahwa yang dilakukan oleh para caleg hanya menyampaikan janji dan sekejap terlihat akrab dan berbaur dengan masyarakat dari berbagai kalangan. Dalam kunjungan mereka mungkin sedikit saja yang mencoba melirik persoalan rakyat jelata. Jika tidak ada masalah yang bisa mereka temui, lalu apa yang akan mereka perjuangkan nanti? Jangan sampai momentum seperti ini digunakan untuk membohongi dan memperbodoh masyarakat. Bagaimana mungkin seseorang akan mampu memperbaiki sistem yang bobrok, jika sebelum masuk dalam sistem tersebut dirinya sendiri sudah bobrok?
Bila kita melihat dengan cermat kehidupan masyarakat pedesaan, ada banyak persoalan yang belum diselesaikan. Salah satunya adalah pendidikan. Para generasi penerus bangsa yang berada di pedesaan harus menempuh perjalanan samapai balasan kilo meter hanya untuk dapat mengenyam pendidikan, namun sangat-sangat disayangkan lagi bahwa fasilitas yang ada juga sangat terbatas. Jangan datang dan merong-rong ingin mensejahterakan masyarakat jika pendidikan para pemegang tongkat estafet bangsa ini saja dilupakan. Pendidikan di pedesaan ibarat luka lama yang belum terobati.
Entah hal ini diketahui atau tidak, tapi masalah-masalah ini dibuat kabur oleh para elit politik. Memilih melupakan masalah pendidikan dan mementingkan urusan pribadi ibarat membiarkan luka lama terus membusuk menggoreskan luka baru ditubuh sendiri.
Kondisi seperti ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan, namun kondisi yang membutuhkan perhatian. Bukan perhatian sesaat untuk mengejar kekuasaan, kekayaan dan popularitas, melainkan untuk mendengar, melihat, merasakan lalu berbuat. Jangan menjadikan politik sebagai pisau untuk menggoreskan luka dalam kehidupan masyarakat. Jadikanlah politik sebagai seni. Seni dalam menyelesaikan masalah publik. Lebih baik mengobati bagian tubuh yang terluka dari pada membiarkan luka itu terus membusuk dan akhirnya melumpuhkan.
Salam hormat Pengejar Mimpi.
Kondisi seperti ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan, namun kondisi yang membutuhkan perhatian. Bukan perhatian sesaat untuk mengejar kekuasaan, kekayaan dan popularitas, melainkan untuk mendengar, melihat, merasakan lalu berbuat. Jangan menjadikan politik sebagai pisau untuk menggoreskan luka dalam kehidupan masyarakat. Jadikanlah politik sebagai seni. Seni dalam menyelesaikan masalah publik. Lebih baik mengobati bagian tubuh yang terluka dari pada membiarkan luka itu terus membusuk dan akhirnya melumpuhkan.
Salam hormat Pengejar Mimpi.

Mantap, sya sangat suka dgn artikel ini, dan artikel ini sebagai sebuah peringatan untuk para caleg, bahwa menjadi anggota legislatif harus benar-benar memahami Tupoksinya, dan tingkat pendidikanpun ada pengaruh pentingnya agar bs memahami benar tugas seorang legislatif.
BalasHapusHormat kk...
HapusKita sebagai rakyat hanya bisa mengingatkan lewat tulisan2 seperti ini...
Nice writing little bro.... tingkatkan 😉😘😍
BalasHapusSiap kk...
Hapus